Moms, Jangan Biarkan Anakmu Kecanduan Main Gadget! Belajarlah dari Kisah Shafraan, Sebelum Terlambat !!
Awalnya saya membiarkan. Saya memberikan. Saya memfasilitasi. Karena bagi saya gadget adalah senjata ampuh saya untuk menenangkan dia. Saat dia marah dan menangis saya pasti akan membujuknya dengan bermain game. Dan memang dia akan langsung tenang.
Di umurnya yang ke-2 tahun sebenarnya saya sudah melihat tanda tanda ke’kaku’an dari caranya berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya saja bagaimana dia merespons permainan manual (mobil-mobilan, pesawat, dan jenis permainan lain yang dia punya).
Pernah sekali saya mendapati dia hanya memegang mobil-mobilannya sambil diam saja. Tidak ada gerakan layaknya seorang anak laki-laki yang diberi mobil-mobilan yang pasti sudah memainkannya sambil meniru suara mobil. Dia kebingungan tebak saya. Karena selama ini dia hanya terbiasa menggerakkan jari-jarinya mengikuti alur permainan dari dalam gadgetnya.
Keanehan lainnya dan yang paling mengkhawatirkan adalah kurangnya kosakata yang bisa dia ucapkan. Padahal anak-anak seumuran dia seharusnya sudah bisa berbicara dengan kosakata yg lebih variatif.
Dalam hati, saya sudah waswas…khawatir dengan perkembangan anak lelaki semata wayang saya. Sempat konsultasi dengan dokter anak mengenai adakah hubungan antara riwayat alergi tinggi yang di derita Shafraan dengan kondisinya ini.
Dan jawabannya adalah tidak ada. Kemungkinan besar pengaruhnya adalah kurangnya interaksi dari orangtua dan anggota keluarga yang kurang berkomunikasi atau menstimulasi Shafraan agar memperbanyak kosakatanya.
Dan hati kecil saya berbisik, gadget-lah penyebabnya. Sejak saat itu saya mulai membatasi penggunaan gadget di rumah. Seringkali saya mesti kewalahan menghadapi tantrumnya Shafraan karena saya berkeras tidak memberikan gadget ke dia.
Dia ngamuk, nangis, melempar semua barang ke arah saya dan siapa saja yg ada di dekatnya, termasuk kakak-kakaknya. Dia susah makan, susah tidur dan rewel. Sangat rewel. Itu berlangsung sekitar 3 hari. Dan pada akhirnya kasihan. Itulah alasan akhirnya saya memberikan lagi gadget ke dia. Dan keadaan rumah jadi tenang kembali.
Halaman Selanjutnya =>
Di umurnya yang ke-2 tahun sebenarnya saya sudah melihat tanda tanda ke’kaku’an dari caranya berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya saja bagaimana dia merespons permainan manual (mobil-mobilan, pesawat, dan jenis permainan lain yang dia punya).Pernah sekali saya mendapati dia hanya memegang mobil-mobilannya sambil diam saja. Tidak ada gerakan layaknya seorang anak laki-laki yang diberi mobil-mobilan yang pasti sudah memainkannya sambil meniru suara mobil. Dia kebingungan tebak saya. Karena selama ini dia hanya terbiasa menggerakkan jari-jarinya mengikuti alur permainan dari dalam gadgetnya.
Keanehan lainnya dan yang paling mengkhawatirkan adalah kurangnya kosakata yang bisa dia ucapkan. Padahal anak-anak seumuran dia seharusnya sudah bisa berbicara dengan kosakata yg lebih variatif.
Dalam hati, saya sudah waswas…khawatir dengan perkembangan anak lelaki semata wayang saya. Sempat konsultasi dengan dokter anak mengenai adakah hubungan antara riwayat alergi tinggi yang di derita Shafraan dengan kondisinya ini.
Dan jawabannya adalah tidak ada. Kemungkinan besar pengaruhnya adalah kurangnya interaksi dari orangtua dan anggota keluarga yang kurang berkomunikasi atau menstimulasi Shafraan agar memperbanyak kosakatanya.
Dan hati kecil saya berbisik, gadget-lah penyebabnya. Sejak saat itu saya mulai membatasi penggunaan gadget di rumah. Seringkali saya mesti kewalahan menghadapi tantrumnya Shafraan karena saya berkeras tidak memberikan gadget ke dia.
Dia ngamuk, nangis, melempar semua barang ke arah saya dan siapa saja yg ada di dekatnya, termasuk kakak-kakaknya. Dia susah makan, susah tidur dan rewel. Sangat rewel. Itu berlangsung sekitar 3 hari. Dan pada akhirnya kasihan. Itulah alasan akhirnya saya memberikan lagi gadget ke dia. Dan keadaan rumah jadi tenang kembali.
Halaman Selanjutnya =>
Komentar
Posting Komentar