Moms, Jangan Biarkan Anakmu Kecanduan Main Gadget! Belajarlah dari Kisah Shafraan, Sebelum Terlambat !!
Puncaknya sekitar 2 bulan yang lalu saya ke RS buat imunisasi si debay Raisha. Ketemu sama dokter di bagian tumbuh kembang anak yang komunikatif sekali. Semua permasalahan kami konsultasikan termasuk bertanya tentang kondisi Shafraan.

Akhirnya dokter coba mengetes motorik halusnya. Dan hasilnya semua stimulator bisa Shafraan buat dan pertanyaan dari dokter bisa dia jawab walaupun kata-katanya belum terlalu jelas.
Alhamdulillah berarti Shafraan normal-normal saja. Mungkin hanya masalah waktu saja sampai dia bisa bicara dengan jelas karena setahu saya anak laki-laki memang agak lambat soal masalah bicara dibanding anak perempuan. Begitu pikir saya.
Tapi ternyata dokter punya diagnosa lain. Menurut dokter, Shafraan sekarang dalam kondisi speech delay atau keterlambatan bicara. Tidak tanggung-tanggung perkembangan bicara Shafraan terlambat 1 tahun dari umurnya yang sudah 3 tahun 4 bulan waktu itu.
Speech delay adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya.
Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki daripada perempuan. Dokter menganjurkan agar Shafraan ikut Terapi Okupasi/Sensori Integrasi untuk menstimulasi kemampuan bahasa dan kosakatanya. Setelah itu, baru dilanjutkan ke Terapi Wicara.
Ya Allah, pernyataan dari dokter itu bagaikan guntur di siang bolong. Baru saya sadar sayalah penyebab Shafraan jadi begini. Saya tidak mau direpotkan dengan suara tangisan atau rengekannya. Saya tidak mau melihat rumah berantakan karena mainannya. Saya tidak mau repot. Saya tidak mau capek. Saya EGOIS. Itulah kesalahan terbesar saya sebagai seorang ibu.
Dan, baru sekarang mata saya terbuka lebar tentang kondisi anak saya. Bagaimana bisa saya tidak peduli pada hal ini selama bertahun-tahun? Bagaimana bisa saya menyia-nyiakan masa-masa emas pertumbuhannya dengan menyibukkannya dengan gadget yang jelas-jelas tidak ada gunanya selain kesenangan sementara?
Menyesal, sangat menyesal. Seandainya waktu bisa diulang kembali pasti saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengajarkan dia berbicara. Namun nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan pun tiada guna. Satu yang pasti adalah bagaimana cara memperbaiki kondisi anak saya.
Setelah berdiskusi dengan suami kami sepakat bahwa kami tidak akan mengikutsertkan Shafraan dalam terapi itu. Kenapa? Karena kami percaya bahwa anak kami bisa dan akan bisa berbicara seperti anak-anak sebayanya. Dan karena ini adalah sepenuhnya kesalahan kami sebagai orangtua khususnya saya sebagai ibunya, maka kamilah yang akan bertanggungjawab sepenuhnya tanpa campur tangan oranglain.
Sejak hari itu penggunaan gadget ditiadakan. Awalnya dia nangis sambil minta tab tapi dengan tegas saya bilang tab rusak. Besoknya dia minta lagi. Tetap saya bilang rusak. Selama kurang lebih seminggu dia masih sering meminta. Tapi alhamdulillah akhirnya dia mulai lupa dengan rutinitasnya yang dulu dan mulai membuat kegiatan baru.
Entah itu lari-lari kecil di dalam rumah, menyusun mobil-mobilan, main pesawat, memanjat tempat jemuran baju saya, membongkar laci buku kakak-kakaknya, ngambil buku dan pensil trus mulai mencorat coret. Bosan dengan buku pindahlah dia corat coret ke dinding.
Hasilnya? Rumah tidak pernah bisa rapi. Mainan berantakan. Tapi ada kemajuan pesat pada diri Shafraan. Pembendaharaan katanya sudah lebih banyak. Bahkan sekarang dia sudah bisa bicara membentuk kalimat. Walaupun masih belum terlalu jelas tapi saya sudah sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang.
Ini adalah pelajaran bagi saya sebagai orangtua. Kita sayang sama anak…orangtua mana yg tidak?
Tapi orangtua pun harus lebih cermat memilah mana yg bisa dan tidak sepatutnya diberikan kepada anak. Jangan sampai karena pola asuh kita bisa berdampak buruk bagi masa depan mereka.
Saya tidak melarang atau menghakimi orangtua yang masih memberikan gadget kepada anak-anaknya. Saya hanya berbagi pengalaman saja. Jangan sampai apa yang terjadi pada Shafraan terjadi pada anak-anak lain. Save our children from gadget. Biarkan mereka menikmati golden age mereka dengan cara alami karena belum waktunya mereka bersentuhan dengan canggihnya teknologi
Merasa artikel ini bermanfaat? Jangan ragu SHARE juga ke teman-temanmu. Membagikan informasi yang bermanfaat juga termasuk amal baikmu lho!
Untuk informasi menarik dan bermanfaat lainnya, LIKE fanspage kami,
sumber
Halaman Selanjutnya =>

Akhirnya dokter coba mengetes motorik halusnya. Dan hasilnya semua stimulator bisa Shafraan buat dan pertanyaan dari dokter bisa dia jawab walaupun kata-katanya belum terlalu jelas.
Alhamdulillah berarti Shafraan normal-normal saja. Mungkin hanya masalah waktu saja sampai dia bisa bicara dengan jelas karena setahu saya anak laki-laki memang agak lambat soal masalah bicara dibanding anak perempuan. Begitu pikir saya.
Tapi ternyata dokter punya diagnosa lain. Menurut dokter, Shafraan sekarang dalam kondisi speech delay atau keterlambatan bicara. Tidak tanggung-tanggung perkembangan bicara Shafraan terlambat 1 tahun dari umurnya yang sudah 3 tahun 4 bulan waktu itu.
Speech delay adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya.
Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki daripada perempuan. Dokter menganjurkan agar Shafraan ikut Terapi Okupasi/Sensori Integrasi untuk menstimulasi kemampuan bahasa dan kosakatanya. Setelah itu, baru dilanjutkan ke Terapi Wicara.
Ya Allah, pernyataan dari dokter itu bagaikan guntur di siang bolong. Baru saya sadar sayalah penyebab Shafraan jadi begini. Saya tidak mau direpotkan dengan suara tangisan atau rengekannya. Saya tidak mau melihat rumah berantakan karena mainannya. Saya tidak mau repot. Saya tidak mau capek. Saya EGOIS. Itulah kesalahan terbesar saya sebagai seorang ibu.
Dan, baru sekarang mata saya terbuka lebar tentang kondisi anak saya. Bagaimana bisa saya tidak peduli pada hal ini selama bertahun-tahun? Bagaimana bisa saya menyia-nyiakan masa-masa emas pertumbuhannya dengan menyibukkannya dengan gadget yang jelas-jelas tidak ada gunanya selain kesenangan sementara?
Menyesal, sangat menyesal. Seandainya waktu bisa diulang kembali pasti saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengajarkan dia berbicara. Namun nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan pun tiada guna. Satu yang pasti adalah bagaimana cara memperbaiki kondisi anak saya.
Setelah berdiskusi dengan suami kami sepakat bahwa kami tidak akan mengikutsertkan Shafraan dalam terapi itu. Kenapa? Karena kami percaya bahwa anak kami bisa dan akan bisa berbicara seperti anak-anak sebayanya. Dan karena ini adalah sepenuhnya kesalahan kami sebagai orangtua khususnya saya sebagai ibunya, maka kamilah yang akan bertanggungjawab sepenuhnya tanpa campur tangan oranglain.
Sejak hari itu penggunaan gadget ditiadakan. Awalnya dia nangis sambil minta tab tapi dengan tegas saya bilang tab rusak. Besoknya dia minta lagi. Tetap saya bilang rusak. Selama kurang lebih seminggu dia masih sering meminta. Tapi alhamdulillah akhirnya dia mulai lupa dengan rutinitasnya yang dulu dan mulai membuat kegiatan baru.
Entah itu lari-lari kecil di dalam rumah, menyusun mobil-mobilan, main pesawat, memanjat tempat jemuran baju saya, membongkar laci buku kakak-kakaknya, ngambil buku dan pensil trus mulai mencorat coret. Bosan dengan buku pindahlah dia corat coret ke dinding.
Hasilnya? Rumah tidak pernah bisa rapi. Mainan berantakan. Tapi ada kemajuan pesat pada diri Shafraan. Pembendaharaan katanya sudah lebih banyak. Bahkan sekarang dia sudah bisa bicara membentuk kalimat. Walaupun masih belum terlalu jelas tapi saya sudah sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang.
Ini adalah pelajaran bagi saya sebagai orangtua. Kita sayang sama anak…orangtua mana yg tidak?
Tapi orangtua pun harus lebih cermat memilah mana yg bisa dan tidak sepatutnya diberikan kepada anak. Jangan sampai karena pola asuh kita bisa berdampak buruk bagi masa depan mereka.
Saya tidak melarang atau menghakimi orangtua yang masih memberikan gadget kepada anak-anaknya. Saya hanya berbagi pengalaman saja. Jangan sampai apa yang terjadi pada Shafraan terjadi pada anak-anak lain. Save our children from gadget. Biarkan mereka menikmati golden age mereka dengan cara alami karena belum waktunya mereka bersentuhan dengan canggihnya teknologi
Merasa artikel ini bermanfaat? Jangan ragu SHARE juga ke teman-temanmu. Membagikan informasi yang bermanfaat juga termasuk amal baikmu lho!
Untuk informasi menarik dan bermanfaat lainnya, LIKE fanspage kami,
sumber
Halaman Selanjutnya =>
Komentar
Posting Komentar